Baccarat Probability_Lottery website_Malaysia Online Casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Legalonlinecasino

PenelFootball Handicap AnalysisiFootbFootball Handicap Analysisall Handicap Analysistian di University College London mematahkan kepercayaan bahwa pilihan ibu untuk bekerja bisa mempengaruhi pertumbuhan emosi anak. Selama ibu punya jam kerja yang normal dan bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan komitmen sebagai orang tuaFootball Handicap Analysis, keputusan untuk bekerja bukanlah masalah bagi tumbuh kembang emosi anak.

Meskipun sebagian anak lebih beruntung lantaran punya PRT di rumah, bukan berarti mereka menjadi manja. Umumnya, PRT bertanggung jawab pada pekerjaan rumah; masak, menyapu, mengepel, atau mencuci baju. Sementara, anak-anak akan mengusahakan tugas-tugas mereka sendiri, mengerjakan PR atau belajar untuk ulangan misalnya. Dalam kasus ini, kemandirian anak-anak akan terdidik secara alami.

Padahal, ibu yang bekerja justru punya banyak efek positif, baik bagi diri mereka sendiri, keluarga, dan tumbuh kembang anak lho! Nah, di artikel ini Hipwee akan memaparkan fakta-fakta penelitian yang bisa meyakinkanmu bahwa kelak tidak ada salahnya bekerja sambil mengurus rumah tangga. Simak, yuk!

Banyak ibu yang khawatir jika ketidakhadiran mereka di rumah akan mempengaruhi perilaku anak. Namun, berbagai penelitian yang dipublikasikan American Psychological Association sejak tahun 1960 justru menjelaskan sebaliknya.

Menurut survei Gallup.com pada 1000 responden, tercatat 28% kasus depresi dialami para ibu rumah tangga sedangkan hanya sekitar 17% yang dialami ibu rumah tangga yang bekerja. Elizabeth Mendes, kepala editor dari Gallup.com menegaskan bahwa pekerjaan memang bisa jadi sumber kebahagiaan bagi para ibu. Hal ini lantaran kesibukan di kantor bisa membuat para ibu terhindar dari emosi-emosi negatif seperti marah, sedih, stres, atau khawatir.

Namun, peran ibu tak bisa diukur dengan seberapa sering seorang ibu ada di samping anak-anaknya. Membimbing dan mengarahkan anak tetap bisa dilakukan selama mampu membagi waktu dan menjaga komunikasi. Bahkan, kemampuan untuk menjalankan dua peran sekaligus adalah bukti bahwa ibu adalah orang tua yang hebat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tinggal di rumah untuk memasak, menyapu, atau mencuci bisa jadi rutinitas yang membosankan. Atas alasan itulah, seorang ibu butuh kegiatan yang bisa menyeimbangkan hidupnya. Bergelut dengan tugas kantor, menghadapi klien, bergaul dengan teman kantor; banyak hal yang bisa menjadikan pekerjaan sebagai penyeimbang – membuat hidup lebih menarik untuk dijalani.

Ibu yang bekerja adalah contoh baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Anak perempuan akan mengerti bahwa perempuan juga layak mengejar karir, bukan sekadar menikah lalu punya anak. Sementara, anak laki-laki akan memahami bahwa tugas-tugas rumah tangga bukan semata-mata tanggung jawab perempuan, tapi seluruh anggota keluarga.

Bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, bekerja tentu memberi manfaat bagi seluruh keluarga, khususnya perkara keuangan. Di negara-negara maju, ibu yang bekerja menjadi isu penting yang erat kaitannya dengan kesejahteraan keluarga. Di Amerika misalnya, tercatat 66% dari seluruh perempuan yang sudah menikah memilih untuk bekerja.

Kental dengan budaya patriarki, kita seringkali menyepelekan perempuan. Peran ibu dianggap sekadar sebagai “pengurus rumah” yang tidak lebih hebat dari ayah. Kadang, hal ini menjadikan anak memilih lebih patuh pada ayah daripada ibu. Namun, anak-anak tentu perlu diberi pemahaman yang benar; bahwa ibu juga punya otoritas atas dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Ibu rumah tangga yang bekerja sering dianggap mengabaikan perannya sebagai orang tua. Alih-alih menemani anak di rumah, ibu justru sibuk dengan rutinitas di kantor. Kadang, hal inilah yang membuat ibu menanggung rasa bersalah. Menganggap bahwa keputusan untuk bekerja membuat anak-anak membenci mereka lantaran merasa diabaikan.

Bagaimanapun, ibu dituntut untuk tegas dan disiplin soal jam kerja. Pekerjaan selayaknya diselesaikan di kantor  karena setelahnya adalah tugas ibu untuk memenuhi hak anak-anak. Gunakan waktu untuk menemani mereka mengerjakan PR atau belajar. Pastikan bahwa sedikit waktu selepas jam kantor cukup berkualitas bagi mereka. Jika terpaksa harus kembali menyentuh folder-folder pekerjaan, lakukan setelah anak-anak tidur di malam hari.

Rutinitas dan tanggung jawab pekerjaan menjadikan ibu tidak punya banyak waktu bersama anak-anaknya. Bahkan, setelah seharian meninggalkan rumah pun masih harus terganggu dengan email klien dan deadline pekerjaan yang belum terselesaikan. Akibatnya, sekadar untuk duduk bersama anak dan mendengarkan hari-hari mereka di sekolah bisa jadi momen berharga.

Soal keuangan memang seringkali menjadi alasan kenapa ibu memilih bekerja. Pasalnya, gaji suami mungkin belum bisa memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Misalnya, dengan UMP 2,2 juta di Jakarta tentu belum menutup kebutuhan pokok, hingga biaya sekolah dan cicilan rumah. Namun, jika ayah dan ibu sama-sama bekerja, sudah pasti masalah keuangan terasa lebih ringan.

Bukan berarti ibu yang tidak bekerja adalah panutan yang buruk. Tapi, pilihan untuk berkarir menjadi contoh gamblang bagi anak-anak untuk mematahkan anggapan-anggapan umum yang menempatkan perempuan di posisi inferior.

Keputusan menjadi ibu rumah tangga yang bekerja seringkali mendapat kritikan. Dianggap menelantarkan anak, abai pada suami, hingga lalai pada tugas-tugas di rumah.

Saling pengertian antara keduanya menjadikan hubungan yang dijalani justru lebih baik. Merasa punya peran yang sama-sama penting dan tanggung jawab yang sama-sama besar membuat ikatan suami istri lebih kuat. Bukan tidak mungkin jika kondisi keluarga jadi lebih bahagia dan harmonis.

Penelitian di Denmark menyebutkan bahwa anak-anak yang sejak usia 4 tahun ditinggal oleh ibunya bekerja justru tumbuh lebih cerdas daripada anak-anak yang ibunya tidak bekerja. Yang pasti, hal ini erat kaitannya dengan peran negara (Denmark) yang mengalokasikan 1,2% pendapatan nasional untuk kepentingan anak-anak. Fasilitas pendidikan yang memadai dan peran orang tua sebagai panutan menjadikan anak-anak punya prestasi yang lebih baik di sekolah.

Para peneliti hanya menemukan sedikit bukti bahwa keputusan ibu untuk bekerja akan mempengaruhi perkembangan perilaku anak, menjadi nakal misalnya. Sebaliknya, anak-anak yang ditinggal bekerja sejak usia kurang dari 3 tahun justru punya prestasi lebih baik di sekolah daripada anak-anak yang ibunya tidak bekerja. Bahkan, anak-anak tersebut juga minim mengalami stres dan depresi. Nilai yang lebih rendah hanya diperoleh oleh anak-anak yang sejak usia kurang dari 1 tahun sudah ditinggal ibunya untuk bekerja.

Nah, gimana? Apakah kamu setuju jika ibu rumah tangga sebaiknya juga bekerja, atau sebaliknya? Saat kelak berumah tangga, semoga kita bisa pintar-pintar menentukan pilihan, ya!

猜你喜欢

Baccarat strategy_Live Baccarat Platform_Indonesia Lottery Official Website_Indonesian Football Handicap Analysis

DuhBaccaratplanmz,pBaccaratplanadahaladekudahmimpimaumaaf-maafanpaBaccaratplansnantiLeba

2021-11-23

Resep Roti 「Indonesian Football Handicap Analysis」Sobek Cream Cheese yang Fluffy

CIndonesiIndonesianFootballHandicapAnalysisanFootballHandicapAnalysisaramembuatrotiIndon

2021-11-16

Update Covid【Football Handicap Analysis】

UntukmempeFootballHandicapAnalysisrcepFootballHandicapAnalysisatFFootballHandicapAnalysi

2021-11-15

Mobile lottery betting_Indonesian Football Handicap Analysis_Gaming Network_Indonesia_Baccarat Computer

BaccaratMalaysiaalasanyanBaccaratMalaysiagsatuinimBaccaratMalaysiaBaccaratMalaysiaemangb

2021-11-09

Indonesian Football Handicap Analysis_Live Baccarat Platform_betvicor_Online casino_Online cash casino

BGGamblingtermsambliGamblingtermsngtermseberapaorangyangmemilihbGamblingtermsunuhdirikar

2021-10-24